Minggu, 03 Februari 2013

Story In Ma'had

Dulu.........pernah terbesit rasa ngeri ketakutan yang dirasakan hampir semua anak yang ditawari pilihan untuk menempuh pendidikan salaf.
“Takut mbak,mas, hafalannya itu lho iiihhh syeremm..... “
“Mana setiap hari disuruh menghafal terus.......trussssss. tidak boleh nonton TV duuh ngebayangin aja aku sudah pusing, tidak boleh keluar dari penjara area yang batasannya udah ditentukan........” beberapa asumsi senada banyak yang terdengar nyaring apa iyaaa......... ?
Awalnya aku juga merasakan ketakutan itu sekarang setelah aku menyelam sendiri, berat hanya dipermulaan, Semua kalah
oleh niat, saat keraguan berbaur dengan tekat. Bayangkan saja menapaki anak tangga satu demi satu.
Apabila niat sudah mendarah mendaging dalam qolbu dengan Seiring berjalannya istiqomah dan tawakkal sebutir pun akan jadi segenggam.
Mayoritas pesantren yang menerapkan konsep salafy biasanya menggunakan sistim hafalan nadhom. Kalam-kalam ilmu yang dirangkai dalam bentuk syair. Agar supaya  seorang santri mudah memahami ilmu alat dengan senang dalam menghafal nadzoman dalam bentuk nada dan lagu
Ada nadhom tentang Fiqih, Tajwid,Tauhid, Gramatika arab yang terdiri dari Nahwu, Shorof, Balaghoh, I’lal, maksud, imrithi, alfiah dan lain sebagainya. Adapun pengarangnya adalah pujangga-pujangga hebat yang sulit dicari bandingannya di zaman sekarang. Mereka adalah alim ulama ’yang mencurahkan segenap pikirannya untuk kemaslahatan islam. Untuk menyebarkan ilmu syari’at tanpa memetik keuntungan sepeserpun dari hasil penjualan penggandaan karyanya. Yang mungkin jika diterapkan sistim royalty niscaya anak cucu mereka akan selalu dibanjiri keuntungan. Namun dapat kita saksikan, kitab-kitab karya mereka terus diterbitkan dari zaman ke zaman. Dipelajari, dikaji tak ubahnya lampu yang tak pernah padam karena qt mencari barokah dari para cendekiawan ulama’ muslim yang mengarang kitab tersebut dan tidak memikirkan kemahalan dari kitab yang dijual
Semuanya cerita tersebut adalah ceritaku di PP.Burhanul Hidayah dibawah asuhan syaikhina KH.M.Sunhaji beliau adalah seorang kyai yang sangat tegas,disiplin dalam setiap hal. Dalam penyampaikan pelajaran,materi, mauidzoh itu mudah dipahami,dimengerti oleh santrinya munkin karena kewibaan beliau dalam mengajar dan mendidik  seorang santri.
Kebiasaan dipondok kami adalah menghafal nadzoman setiap selasa pagi, melalarkan juz 30 setiap hari, tiada kata lelah dan mengeluh dalam diri seorang santri karena keyakinan dan kemantaban pada asatidz dilembaga BH sudah menjadi prinsip
Hmmm.. kalau dibayangkan sih sepertinya norak. Tapi yang kurasakan... apa mungkin dapat kutemukan pondok seperti ini di tempat lain pada zaman abad ke-21 ini...? (hehehe...)
Ada rasa bangga, ada rasa puas. Saat beberapa nadzom alfiah kudendangkan tanpa membuka catatan sedikitpun. Begitu juga pasti yang dirasa semua teman-temanku. Mengingat bagaimana kemarin kami menghafal satu bait demi satu bait untuk setoran dan menamba hafalan
Aku semakin kagum memandang mereka para Ustadz yang ada disini, dan tentu saja Syaikhina pengasuh pondokku. Di dalam kepala ustadku tersimpan berjuta beribu-ribu bait lengkap dengan makna dan keterangannya baik itu Imrithi, Alfiah, Shorof, I’lal,balaghoh ataupun maksud . Mereka sudah menapaki istiqomah muthola’ah yang tinggi dan ikhlas membagi ilmu dalam bilangan tahun yang tidak sedikit.
Dan perlu kukatakan pada semuanya. Khazanah ilmu yang ada disini tidak bisa temui ditempat lain karena disini mengunggulkan budi pekerti yang islami dan juga mendidik kader-kader cendekiawan muslim dunia yang mampu mendobrak kemajuan islam didunia kususnya dinegara kita Negara indonesia.

2 komentar:

Unknown mengatakan...

Akhirnya saya bisa memposting apa yang pernah terbesit ketika aku di ma'had dulu

khaidirsyah mengatakan...

sae sae

Posting Komentar

syaifudin.zuhry. Diberdayakan oleh Blogger.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Lady Gaga, Salman Khan