Kamis, 02 Mei 2013

Interfrensi Bahasa



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Bahasa selalu mengalami perkembangan dan perubahan. Perkembangan dan perubahan itu terjadi karena adanya perubahan sosial, ekonomi, dan budaya. Perkembangan bahasa yang cukup pesat terjadi pada bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Kontak pada bidang politik, ekonomi, ilmu pengetahuan, dan lainnya dapat menyebabkan suatu bahasa terpengaruh oleh bahasa yang lain. Proses saling mempengaruhi antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lain tidak dapat dihindarkan. Bahasa sebagai bagian integral kebudayaan tidak dapat lepas dari masalah di atas.
Saling mempengaruhi antarbahasa pasti terjadi, misalnya kosakata bahasa yang bersangkutan, mengingat kosakata itu memiliki sifat terbuka.
Menurut Weinrich (dalam Chaer dan Agustina 1995:159) kontak bahasa merupakan peristiwa pemakaian dua bahasa oleh penutur yang sama secara bergantian. Dari kontak bahasa itu terjadi transfer atau pemindahan unsur bahasa yang satu ke dalam bahasa yang lain yang mencakup semua tataran. Sebagai konsekuensinya, proses pinjam meminjam dan saling mempengaruhi terhadap unsur bahasa yang lain tidak dapat dihindari.

B.     Rumusan Masalah
1.      Definisi Interferensi
2.      Macam- macam Interferensi
3.      Faktor Penyebab Terjadinya Interfrensi
C.    Tujuan Masalah
1.      Mengetahui Pengertian Interfrensi
2.      Mengetahui Jenis-jenis Interfrensi
3.      Mengetahui Faktor Penyebab Terjadinya Interfrensi


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Interferensi Bahasa
Kesalahan bahasa merupakan hal yang biasa terjadi dalam proses pembelajaran bahasa, karena melakukan kesalahan sendiri merupakan salah satu bagian dari proses belajar bahasa itu sendiri. Terlebih jika yang dipelajari adalah bahasa kedua (B2) atau bahasa asing. Dalam sebuah kamus kebahasaan, analisis kesalahan diartikan sebagai berikut “the study and analysis of the errors made by second language learners”.[1] yaitu, suatu kajian dan analisis pada kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh bahasa kedua pembelajar. Jadi kesalahan-kesalahan tersebut terjadi akibat pembelajar kurang menguasai bahasa keduanya (B2).
Alwasilah (1985:131) mengetengahkan pengertian interferensi berdasarkan rumusan Hartman dan Stonk bahwa interferensi merupakan kekeliruan yang disebabkan oleh adanya kecenderungan membiasakan pengucapan (ujaran) suatu bahasa terhadap bahasa lain mencakup pengucapan satuan bunyi, tata bahasa, dan kosakata. Sementara itu, Jendra (1991:109) mengemukakan bahwa interferensi meliputi berbagai aspek kebahasaan, bisa menyerap dalam bidang tata bunyi (fonologi), tata bentukan kata (morfologi), tata kalimat (sintaksis), kosakata (leksikon), dan tata makna (semantik) (Suwito,1985:55).[2]
Kesalahan-kesalahan berbahasa menurut corder (1971), dapat dibedakan menjadi berikut:
1.         Salah (mistake/الأغلاط): penyimpangan struktur lahir yang terjadi karena penutur tidak mampu menenentukan pilihan penggunaan ungkapan yang tepat sesuai dengan situasi yang ada.
2.         Selip (lapses/زلة اللسان): penyimpangan bentuk lahir karena beralihnya pusat perhatian topik pembicaraan secara sesaat, kelelahan tubuh juga bisa menimbulkan selip bahasa.
3.         Silap (error/الأخطاء): penyimpangan bentuk lahir dari struktur baku yang terjadi karena pemakai belum menguasai sepenuhnya kaidah bahasa.[3]

B.       Jenis Interferensi Bahasa
Dalam analisi kontrastif klasifikasi kesalahan akan didasarkan pada tataran analisis bahasa. Jadi, akan dipasangkan kesalahan akibat interferensi atau transfer pada tataran  fonologi, tataran morfologi, tataran sintaksis, dan tataran semantik.
Chaer dan Agustina  mengidentifikasi interferensi bahasa menjadi empat macam.[4]
1.      Interferensi Fonologis
Interferensi fonologis terjadi apabila penutur mengungkapkan kata-kata dari suatu bahasa dengan menyisipkan bunyi-bunyi bahasa dari bahasa lain. Interferensi fonologis dibedakan menjadi dua macam, yaitu interferensi fonologis pengurangan huruf dan interferensi fonologis pergantian huruf.
Contoh:  slalu : selalu, adek : adik
 ama : sama, rame : ramai     
 smua : semua, cayang : sayang
2.      Interferensi Morfologis
Interferensi morfologis terjadi apabila dalam pembentukan katanya suatu bahasa menyerap afiks-afiks bahasa lain. Penyimpangan struktur itu terjadi kontak bahasa antara bahasa yang sedang diucapkan (bahasa Indonesia) dengan bahasa lain yang juga dikuasainya (bahasa daerah atau bahasa asing).
Contoh: kepukul ? terpukul
dipindah ? dipindahkan
neonisasi ? peneonan
menanyai ? bertanya
3.      Interferensi Sintaksis
Interferensi sintaksis terjadi apabila struktur bahasa lain (bahasa daerah, bahasa asing, dan bahasa gaul) digunakan dalam pembentukan kalimat bahasa yang digunakan. Penyerapan unsur kalimatnya dapat berupa kata, frase, dan klausa. Interferensi sintaksis seperti ini tampak jelas pada peristiwa campur kode.
Contoh: mereka akan married bulan depan.
karena saya sudah kadhung apik sama dia, ya saya tanda tangan saja.
4.      Interferensi Semantis
Interferensi yang terjadi dalam bidang tata makna. Menurut bahasa resipiennya, interferensi semantik dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu interferensi ekspansif dan interferensi aditif.
a.       Interferensi ekspansif, yaitu interferensi yang terjadi jika bahasa yang tersisipi menyerap konsep kultural beserta namanya dari bahasa lain.
Contoh: teman-temanku tambah gokil saja.
b.      Interferensi aditif, yaitu interferensi yang muncul dengan penyesuaian dan interferensi yang muncul berdampingan dengan bentuk lama dengan makna yang agak khusus.
 Contoh: mbak Ari cantik sekali
C.    Faktor Penyebab Terjadinya Interfrensi
Selain kontak bahasa, menurut Weinrich ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya interferensi, antara lain:
1.      Kedwibahasaan peserta tutur
Kedwibahasaan peserta tutur merupakan pangkal terjadinya interferensi dan berbagai pengaruh lain dari bahasa sumber, baik dari bahasa daerah maupun bahasa asing. Hal itu disebabkan terjadinya kontak bahasa dalam diri penutur yang dwibahasawan, yang pada akhirnya dapat menimbulkan interferensi.[5]
2.      Tipisnya kesetiaan pemakai bahasa penerima
Tipisnya kesetiaan dwibahasawan terhadap bahasa penerima cenderung akan menimbulkan sikap kurang positif. Hal itu menyebabkan pengabaian kaidah bahasa penerima yang digunakan dan pengambilan unsur-unsur bahasa sumber  yang dikuasai penutur secara tidak terkontrol. Sebagai akibatnya akan muncul bentuk interferensi dalam bahasa penerima yang sedang digunakan oleh penutur, baik secara lisan maupun tertulis.
3.        Tidak cukupnya kosakata bahasa penerima
Perbendaharaan kata suatu bahasa pada umumnya hanya terbatas pada pengungkapan berbagai segi kehidupan yang terdapat di dalam masyarakat yang bersangkutan, serta segi kehidupan lain yang dikenalnya. Oleh karena itu, jika masyarakat itu bergaul dengan segi kehidupan baru dari luar, akan bertemu dan mengenal konsep baru yang dipandang perlu. Karena mereka belum mempunyai kosakata untuk mengungkapkan konsep baru tersebut, lalu mereka menggunakan kosakata bahasa sumber untuk mengungkapkannya, secara sengaja pemakai bahasa akan menyerap atau meminjam kosakata bahasa sumber untuk mengungkapkan konsep baru tersebut. Faktor ketidak cukupan atau terbatasnya kosakata bahasa penerima untuk mengungkapkan suatu konsep baru dalam bahasa sumber, cenderung akan menimbulkan terjadinya interferensi.
Interferensi yang timbul karena kebutuhan kosakata baru, cenderung dilakukan secara sengaja oleh pemakai bahasa. Kosakata baru yang diperoleh dari interferensi ini cenderung akan lebih cepat terintegrasi karena unsur tersebut memang sangat diperlukan untuk memperkaya perbendaharaan kata bahasa penerima.
4.      Menghilangnya kata-kata yang jarang digunakan
Kosakata dalam suatu bahasa yang jarang dipergunakan cenderung akan menghilang. Jika hal ini terjadi, berarti kosakata bahasa yang bersangkutan akan menjadi kian menipis. Apabila bahasa tersebut dihadapkan pada konsep baru dari luar, di satu pihak akan memanfaatkan kembali kosakata yang sudah menghilang dan di lain pihak akan menyebabkan terjadinya interferensi, yaitu penyerapan atau peminjaman kosakata baru dari bahasa sumber.
Interferensi yang disebabkan oleh menghilangnya kosakata yang jarang dipergunakan tersebut akan berakibat seperti interferensi yang disebabkan tidak cukupnya kosakata bahasa penerima, yaitu unsur serapan atau unsur pinjaman itu akan lebih cepat diintegrasikan karena unsur tersebut dibutuhkan dalam bahasa penerima.
5.      Kebutuhan akan sinonim
Sinonim dalam pemakaian bahasa mempunyai fungsi yang cukup penting, yakni sebagai variasi dalam pemilihan kata untuk menghindari pemakaian kata yang sama secara berulang-ulang yang bisa mengakibatkan kejenuhan. Dengan adanya kata yang bersinonim, pemakai bahasa dapat mempunyai variasi kosakata yang dipergunakan untuk menghindari pemakaian kata secara berulang-ulang.
Karena adanya sinonim ini cukup penting, pemakai bahasa sering melakukan interferensi dalam bentuk penyerapan atau peminjaman kosakata baru dari bahasa sumber untuk memberikan sinonim pada bahasa penerima. Dengan demikian, kebutuhan kosakata yang bersinonim dapat mendorong timbulnya interferensi.
6.      Prestise bahasa sumber dan gaya bahasa
Prestise bahasa sumber dapat mendorong timbulnya interferensi, karena pemakai bahasa ingin menunjukkan bahwa dirinya dapat menguasai bahasa yang dianggap berprestise tersebut.  Prestise bahasa sumber dapat juga berkaitan dengan keinginan pemakai bahasa untuk bergaya dalam berbahasa. Interferensi yang timbul karena faktor itu biasanya berupa pamakaian unsur-unsur bahasa sumber pada bahasa penerima yang dipergunakan
7.    Terbawanya kebiasaan dalam bahasa ibu
Terbawanya kebiasaan dalam bahasa ibu pada bahasa penerima yang sedang digunakan, pada umumnya terjadi karena kurangnya kontrol bahasa dan kurangnya penguasaan terhadap bahasa penerima. Hal ini dapat  terjadi pada dwibahasawan yang sedang belajar bahasa kedua, baik bahasa nasional maupun bahasa asing.  Dalam penggunaan bahasa kedua, pemakai bahasa kadang-kadang kurang kontrol. Karena kedwibahasaan mereka itulah kadang-kadang pada saat berbicara atau menulis dengan menggunakan bahasa kedua yang muncul adalah kosakata bahasa ibu yang sudah lebih dulu dikenal dan dikuasainya.[6]





















BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
1.      Interferensi Bahasa adalah Kesalahan bahasa merupakan hal yang biasa terjadi dalam proses pembelajaran bahasa, karena melakukan kesalahan sendiri merupakan salah satu bagian dari proses belajar bahasa itu sendiri. Terlebih jika yang dipelajari adalah bahasa kedua (B2) atau bahasa asing.
2.      Dalam analisi kontrastif klasifikasi kesalahan akan didasarkan pada tataran analisis bahasa. Jadi, akan dipasangkan kesalahan akibat interferensi atau transfer pada tataran  fonologi, tataran morfologi, tataran sintaksis, dan tataran semantik. Chaer dan Agustina  mengidentifikasi interferensi bahasa menjadi empat macam.
a.       Interferensi Fonologis
b.      Interferensi Morfologis
c.       Interferensi Sintaksis
d.      Interferensi Semantis
3.      Selain kontak bahasa, menurut Weinrich ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya interferensi, antara lain:
a.         Kedwibahasaan peserta tutur
b.        Tipisnya kesetiaan pemakai bahasa penerima
c.         Tidak cukupnya kosakata bahasa penerima
d.        Menghilangnya kata-kata yang jarang digunakan
e.         Kebutuhan akan sinonim
f.         Prestise bahasa sumber dan gaya bahasa
g.        Terbawanya kebiasaan dalam bahasa ibu

DAFTAR PUSTAKA


Alwasilah, A Chaedar. 1985. Beberapa Madhab dan dikotomi Teori Linguistik. Bandung: Angkasa

Jack. C Richards, Longman dictionary of LanguageTeaching  and Applied Linguistic, Great Britain, 2010

Pranowo, Analisis Pengajaran Bahasa, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1996

Chaer, Abdul dan Leoni Agustina. 1995. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta.

Suwito, Pengantar Awal SosiolinguistikTeori dan Problema.(Surakarta:henary cipta, 1985



[1] Jack. C Richards, Longman dictionary of LanguageTeaching  and Applied Linguistic, (Great Britain, 2010), hal. 210.
[2] Alwasilah, A Chaedar. 1985. Beberapa Madhab dan dikotomi Teori Linguistik. Bandung: Angkasa.

[3] Pranowo, Analisis Pengajaran Bahasa, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1996), hal. 51.
[4] Chaer, Abdul dan Leoni Agustina. 1995. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta.

[5] Suwito, Pengantar Awal SosiolinguistikTeori dan Problema.(Surakarta:henary cipta, 1985) Hal: 150

0 komentar:

Posting Komentar

syaifudin.zuhry. Diberdayakan oleh Blogger.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Lady Gaga, Salman Khan